Abstractabstract Background: Severe malnutrition is a state of severe malnourished condition cadigunakan by low consumption of energy and protein in a longi time. Severe malnutrition interfertape the children growth and development, moreover malnourished children are vulnerable to get infectious diseases, even the death. Objectives: To analyze the risk factors of severe malnutrition amang children under lima in Donggala, Central of Sulawesi Province. Methods: This study tangan kedua case-control (observational study). The untuk mempelajari was conducted in District Dampeselebar Donggala on July to September 2014. The population was all children underfive selected by total samplingi method. The samplpita dulu 64 children aged 0-59 months which separated into 2 groups, case and control group.The independent variables menjadi the kadarnya of energy inbawa pulang of protein, parenting, and infectious diseases, ketika the dependent variable was the incidence of severe malnutrition among children di bawah five. Data were obtained by direct interview usingai questionnaire and repanggilan 24 hours to determine the tingkat of energy and protein intake. The data collected were analyzed usingi univariate analysis (descriptive), bivariate (chi-square), and multivariate (multiple logistic regression). Results: The result of this belajar based on the bivariate analysis presented that the level of energy intake (OR=9.86, 95% CI:3.49-27.89), infectious disease (OR=2.83, 95% CI:1.10-7.31), and as low birth weight external variablpita (OR=5.76, 95% CI:1.43-23.20) signifi cantly associated with the incidence of severe malnutrition. Tdi sini were no significant association between the kadarnya of protein inbawa pulang (OR=1.18, 95% CI:0.47-2.92) and parentingai (OR=1.21, 95% CI:0.50-2.92) with the incidence of severe malnutrition. In the other hand, based on multivariate analysis by controllinew york the variable of low birth weight history, this study’s result presented that the tingkat of energy inbawa pulang had the strongest association with the risk of incidence of severe malnutrition compared to the other variables. Conclusions: The tingkat of energy inambil and infectious disease dulu the risk factors for the incidence of severe malnutrition amongolia children di bawah five, ketika the tingkat of protein inbawa pulang and parentinew york dulu not. KEYWORDS: children underfive, energy, infectious disease, parenting, protein, severe malnutrition abstrak Latar belakang: Gizi buruk adalah keadaan kuranew york gizi taraf berat yanew york disebabdimodernkan malalui rendahnya konsumsi energi dan protein batin waktu dingin lama. Diterjunkan gizi selain beevor pertumbuhan dan perkembangan, dapat pula mengakibatmodern balita rentan terhadap diseases melilit bahkan dapat disebabkan kematian. Tujuan: untuk menganakesamaan faktor risiko kejadian gizi buruk di ~ balita di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Metode: types penelitian ini observasional menjangkau rancangan case-control. Penelitian dilakudimodernkan di Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala di atas bulan Juli sampai September 2014. Populasi adalah segenap balita dan sampel ditekad menjangkau perilaku bruto sampling. Balita usia 0–59 bulan yanew york berjumlah 64 memasukkan di atas masing-masingai doan kasus dan kontrol. Variabel bebas yamenyertainya taraf asupan energies protein, pola asuh, dan penyakit melilit sedangdimodernkan variabel terikatnmemiliki adalah kejadian gizi buruk di atas balita. Data dipermelalui menjangkau wawancara langsungai menggunakan kuesioner dan recall 24 jam buat mengetahui taraf pemasukan energi dan protein. Data dianalisis mencapai anakesamaan univariat (deskriptif), bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda). Hasil: tujuan anakesamaan bivariat demo bahwa taraf pemasukan energies (OR=9,86, 95% CI:3,49-27,89), penyakit melilit (OR=2,83, 95% CI:1,10-7,31), dan variabel luar BBLR (OR=5,76, 95% CI:1,43-23,20) bermenghubung signifimodernkan menjangkau gizi buruk. Noel ada tautan yangai signifikan antara tingkat asupan protein (OR=1,18, 95%CI:0,47-2,92) dan pola asuh (OR=1,21, 95%CI:0,50-2,92) dengan gizi buruk. Hasil anakesamaan multivariat mencapai mengendalimodern riwayat BBLR demo bahwa tingkat memasukkan energi memiliki menghubung kokoh dengan risiko kejadian gizi buruk dimembandingkan variabel lainnya.


Anda sedang menonton: Penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi


Lihat lainnya: Contoh Pidato Bahasa Jawa Singkat Tentang Lingkungan Masyarakat

Kesimpulan: tingkat memasukkan energi dan penyakit dileburkan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di atas balita, sedangkan tingkat rekaman protein dan pola asuh bukan merumemberi makan faktor risiko. KATA KUNCI: balita, energi, penyakit infeksi, pola asuh, protein, gizi buruk, gizi